Unit Public
Relations dan Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture
serta Daop 2 Bandung mengadakan Napak Tilas Jalur Non Aktif antara
Rancaekek - Tanjungsari (Citali) pada Selasa (29/3). Kegiatan yang
bertujuan untuk mengupas aspek sejarah dan aset yang dimiliki oleh PT.
KAI di jalur non aktif tersebut, juga menggandeng komunitas yang
memberikan perhatian khusus terhadap sejarah dan perkeretapian.
Komunitas tersebut antara lain Indonesian Railway Preservation Society
(IRPS), Kereta Anak Bangsa (KAB), Sahabat Museum (Batmus) dan Bandung
Heritage Society. Juga rekan-rekan media massa turut pula mengikuti
kegiatan ini.
Rombongan Napak Tilas menyusuri bekas Rail Bed di daerah Tanjungsari yang sudah berubah menjadi jalan
Peserta Napak Tilas yang berjumlah 65
orang, melihat langsung bekas bangunan yang tersisa dan jalur rel yang
sudah berubah menjadi jalan perkampungan. Titik tujuan yang mereka lihat
diantaranya, sisa pondasi jembatan di daerah Citali yang dikenal dengan
nama Tunggul Hideung, bekas Stasiun Tanjungsari, Viaduct yang
berdekatan dengan lokasi Stasiun Tanjungsari, dan Jembatan Cikuda atau
masyarakat setempat menyebutnya dengan Jembatan Cingcin. Dalam kegiatan
ini, juga diadakan Diskusi guna mengupas lebih lanjut sejarah
pembangunan dan beroperasinya KA di lintas Rancaekek - Tanjungsari
(Citali). Pada kegiatan diskusi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumedang, Drs. H. Subagio.,M.si, memaparkan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sumedang dan perkeretaapian
yang bisa dikembangkan di wilayahnya. Selain itu, pengamat transportasi
dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno juga memberikan materi
mengenai studi perkeretaapian di Jawa Barat. Diskusi ini juga dihadiri
oleh unsur Muspika tiga Kecamatan, Kecamatan Tanjungsari, Jatinangor dan
Pamulihan.
Peserta Napak Tilas berfoto bersama dengan latar Jembatan Cikuda atau yang lebih dikenal dengan Jembatan Cingcin
Berdasarkan literatur yang ada, jalur KA
Rancaekek – Tanjungsari hingga Citali membentang sepanjang 14,5 km.
Namun yang sempat beroperasi hanya 11,2 km saja, sedangkan 3,3 km antara
Tanjungsari – Citali belum dioperasikan karena belum selesainya proses
pembangunan. Jalur ini mulai dibangun pada masa Kolonial Belanda di
tahun 1916 dan mulai beroperasi pada tahun 1921, dan terbilang lama
dalam proses pembangunannya. Dikarenakan terdapat bangunan jembatan yang
berbeda dibandingkan dengan jembatan di jalur daerah lain yang
menggunakan jembatan rangka besi baja. Di jalur ini, jembatan yang
dibuat menggunakan konstruksi batu atau beton, sehingga dari sisi
arsitektur menjadi sangat indah dibandingkan jika menggunakan konstruksi
besi baja. Seperti Jembatan Cikuda (Cingcin) dan jembatan Cigondok yang
sampai saat ini masih berdiri dengan kokoh. Ketika aktif, KA Rancaekek –
Tanjungsari berhenti di Halte Bojongloa, Cikeruh (Jatinangor), Cileles
dan Stasiun Tanjungsari, dan jenis lokomotif uap yang digunakan bukan
jenis lokomotif besar. Jenis atau type lokomotif uap yang digunakan
bertipe C10 atau C11 hampir serupa dengan lokomotif Jaladhara. Pada
tahun 1942, seiring dengan masuknya penjajahan Jepang, jalur Rancaekek –
Tanjungsari berhenti beroperasi. Dikarenakan jalur KA dibongkar oleh
Pemerintah Militer Jepang dan digunakan untuk membangun Jalur KA di
daerah lain.
Sumber : PT KAI