Memberikan informasi tentang tempat travelling dan Jadwal Kereta Terbaru

Breaking

Sunday, April 10, 2016

Napak Tilas Jalur Non Aktif Rancaekek – Tanjungsari (Citali)

Unit Public Relations dan Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture serta Daop 2 Bandung mengadakan Napak Tilas Jalur Non Aktif antara Rancaekek - Tanjungsari (Citali) pada Selasa (29/3). Kegiatan yang bertujuan untuk mengupas aspek sejarah dan aset yang dimiliki oleh PT. KAI di jalur non aktif tersebut, juga menggandeng komunitas yang memberikan perhatian khusus terhadap sejarah dan perkeretapian. Komunitas tersebut antara lain Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), Kereta Anak Bangsa (KAB), Sahabat Museum (Batmus) dan Bandung Heritage Society. Juga rekan-rekan media massa turut pula mengikuti kegiatan ini.


Rombongan Napak Tilas menyusuri bekas Rail Bed di daerah Tanjungsari yang sudah berubah menjadi jalan


Peserta Napak Tilas yang berjumlah 65 orang, melihat langsung bekas bangunan yang tersisa dan jalur rel yang sudah berubah menjadi jalan perkampungan. Titik tujuan yang mereka lihat diantaranya, sisa pondasi jembatan di daerah Citali yang dikenal dengan nama Tunggul Hideung, bekas Stasiun Tanjungsari, Viaduct yang berdekatan dengan lokasi Stasiun Tanjungsari, dan Jembatan Cikuda atau masyarakat setempat menyebutnya dengan Jembatan Cingcin. Dalam kegiatan ini, juga diadakan Diskusi guna mengupas lebih lanjut sejarah pembangunan dan beroperasinya KA di lintas Rancaekek - Tanjungsari (Citali). Pada kegiatan diskusi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumedang, Drs. H. Subagio.,M.si, memaparkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sumedang dan perkeretaapian yang bisa dikembangkan di wilayahnya. Selain itu, pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno juga memberikan materi mengenai studi perkeretaapian di Jawa Barat. Diskusi ini juga dihadiri oleh unsur Muspika tiga Kecamatan, Kecamatan Tanjungsari, Jatinangor dan Pamulihan.


Peserta Napak Tilas berfoto bersama dengan latar Jembatan Cikuda atau yang lebih dikenal dengan Jembatan Cingcin

Berdasarkan literatur yang ada, jalur KA Rancaekek – Tanjungsari hingga Citali membentang sepanjang 14,5 km. Namun yang sempat beroperasi hanya 11,2 km saja, sedangkan 3,3 km antara Tanjungsari – Citali belum dioperasikan karena belum selesainya proses pembangunan. Jalur ini mulai dibangun pada masa Kolonial Belanda di tahun 1916 dan mulai beroperasi pada tahun 1921, dan terbilang lama dalam proses pembangunannya. Dikarenakan terdapat bangunan jembatan yang berbeda dibandingkan dengan jembatan di jalur daerah lain yang menggunakan jembatan rangka besi baja. Di jalur ini, jembatan yang dibuat menggunakan konstruksi batu atau beton, sehingga dari sisi arsitektur menjadi sangat indah dibandingkan jika menggunakan konstruksi besi baja. Seperti Jembatan Cikuda (Cingcin) dan jembatan Cigondok yang sampai saat ini masih berdiri dengan kokoh. Ketika aktif, KA Rancaekek – Tanjungsari berhenti di Halte Bojongloa, Cikeruh (Jatinangor), Cileles dan Stasiun Tanjungsari, dan jenis lokomotif uap yang digunakan bukan jenis lokomotif besar. Jenis atau type lokomotif uap yang digunakan bertipe C10 atau C11 hampir serupa dengan lokomotif Jaladhara. Pada tahun 1942, seiring dengan masuknya penjajahan Jepang, jalur Rancaekek – Tanjungsari berhenti beroperasi. Dikarenakan jalur KA dibongkar oleh Pemerintah Militer Jepang dan digunakan untuk membangun Jalur KA di daerah lain. 

Sumber : PT KAI